 | Setiap perempuan itu terlahir cantik. Tapi ketika kamu harus berhadapan dengan sosok yang nggak cuma memenuhi semua standar kecantikan yang diciptakan oleh industri kecantikan dunia dan bahkan melebihi, menciptakan definisi baru tentang kecantikan itu sendiri, dalam persaingan memperebutkan cinta seorang eligible bachelor.. |
Jakarta, November 2003
“..Haslan Nasution dalam pidatonya mengatakan bahwa peningkatan kualitas pendidikan bangsa adalah salah satu solusi untuk mengatasi krisis multidimensional yang melanda bangsa ini. Peningkatan kualitas pendidikan diharapkan dapat mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga meningkatkan kualitas SDM sebagai langkah awal untuk memajukan peradaban bangsa yang tengah terpuruk ini. Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang layak, terutama bagi masyarakat Indonesia di daerah terpencil adalah satu isu penting yang harus segera mendapat perhatian. Program pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan ini tentunya akan berhasil bila seluruh elemen masyarakat sama-sama ikut berperan dan menyadari betapa krusialnya masalah ini bagi masa depan bangsa.Pada kesempatan itu Haslan juga menilai bahwa saat ini dunia pendidikan Indonesia telah salah kaprah karena bersifat elitis secara kultural yang hanya menjadi penyatu kelas sosial.”
”Pendidikan sekarang ini kan mulai cenderung menjadi salah tujuan. Bukannya menyatukan bangsa, justru menyatukan kelas sosial.. Nah, ini konsepnya sudah tidak betul ini.. Karena justru yang harusnya dibuat elit itu akademiknya, programnya, bukan jadi elit secara kultural. Semangat egaliter ini yang harusnya keluar secara kultural dalam pendidikan Indonesia.. Supaya tidak terjadi di kelas ekonomi atas.. Pemudanya belajar menjadi penerus bangsa, yang di kelas menengah tahunya bagaimana menjadi profesional, sementara yang di level bawah.. Pasrah saja. Ini jelas tidak betul!”
“ Do you really watch this?”
Setengah sadar aku mengangkat kepalaku dari tumpukan bantal di atas sofa.
“Gue pengen loh punya laki kayak dia..” Setengah bergumam Dian menunjuk dengan remote tv sosok tua tapi gagah dengan postur tinggi langsing yang tampak di layar tv, sedang memberikan pidato dengan gaya yang sangat kharismatik. Terlihat begitu charming dalam setelah batik dan celana hitam. Wajahnya sudah keriput, tapi seperti oase di padang pasir, membahagiakan siapapun yang melihatnya. Rambutnya keperakan, memberi efek “saint” yang begitu kuat.
Dia itu Haslan Nasution. Tepatnya Prof. Dr. Haslan Nasution, tokoh politik dan pendidikan yang sangat terkenal dan sangat penting di Indonesia. Dulu, dia Rektor Universitas Indonesia Raya—salah satu universitas tertua di Indonesia—selama hampir 15 tahun sebelum akhirnya diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan selama 2 kali masa pemerintahan. Sekarang Haslan Nasution memimpin partainya sendiri yang berjuang di core pendidikan; Partai Pendidikan Indonesia Raya—PPIR. Konsistensinya yang luar biasa selama ini memperjuangkan dan memajukan dunia pendidikan Indonesia membuatnya sangat disegani dan dihormati. Dan lebih dari itu, Haslan Nasution itu populer dan dicintai (terutama) oleh kaum perempuan Indonesia, karena selain hal-hal yang tadi aku ceritakan, sosoknya nggak kalah dari bintang bintang tua Hollywood macam Robert Deniro, atau Sean Connery.
He is such a hunk, even now, in his sixty something.
“Gue juga mau kaleee.. Siapa yang nggak?!” balasku sekenanya setelah puas melihat wajah tua yang begitu memikat itu. Aku merebahkan lagi kepalaku di atas bantal, memejamkan mata dan mencoba tidur.
“Ikutan PPIR yuuk.. Gue pengen loh, biar kenal sama dia. Temen gue di kantor ada yang ngajakin,” Dian terdengar bersemangat. “Iya, taun depan kan pemilu, pasti mereka juga lagi ngerekrut kader partai gitu. Ayoook.. Ikutan yuuk!” Dian lalu mengguncang-guncang badanku. “Nadj.. ”
“Muke gile lu mau ikutan partai,” ledekku sekenanya dengan nada kesal. “ Tau gak sih lo, gue udah 3 hari begadang buat nyelesein proyek sialan itu dan ternyata gak jadi! Gak dapet!!! That is exactly why I am so grumpy now, I am exhausted, and I am upset.. ”
Dian menghentikan guncangannya ke badanku, menggantinya dengan usapan lembut meninabobokan.
“Eh, Nadj, mana tadi majalah GALS yang baru lo beli. Kata lo baju di cover-nya keren banget.. Si Dania Duta Gals itu ya covernya? Dimana sih Nadj?”
“Di tas.. ”erangku pelan.
Setelah beberapa lama Dian tidak bersuara lagi. Pasti sudah asyik membaca GALS Indonesia, majalah favorit kita berdua itu. Baguslah, aku sedang nggak mood melayani ocehannya. Beberapa saat kemudian, antara sadar dan nggak, aku merasa badanku diguncang-guncang lagi. Pelan-pelan aku mulai mendengar suara Dian memanggil-manggil aku.
“Nadj, telpon.. Ada telpon nih.. Mbak Shana!”
Aku segera bangkit sesigap serdadu di barak yang langsung melompat bangun begitu mendengar sirine tertentu yang mengharuskan mereka segera siaga.
“Kak.. ” suaraku masih parau, khas ‘suara bantal’.
“Nadj, Kakak pulang maleman ya. Masih ada meeting. Tolong Chika diawasin aja ya, periksain pe ernya, terus katanya minta dibantuin bikin tugas gambar tuh. Katanya Mama suruh bujukin Tante Nadja. Chika udah kamu jemput kan dari ulang taun temennya? “
O My God..
CHIKA!!! Pantesan dari tadi aku merasa nggak tenang, seperti ada sesuatu yang harus aku kerjakan.
“Nadj.. Kamu udah jemput Chika kan..?” suara Kak Shana terdengar curiga karena aku langsung diam seribu basa.
Kamu tahu apa yang aku lakukan berikutnya?
Secepat kilat aku meraih kunci mobil, menyambar tas, berlari keluar rumah, melesat pergi tanpa sempat menutup telepon dari Kak Shana.
“Nadj.. Nadja.. Jangan bilang kamu lupa jemput Chika.. Nadj.. NADJA SINKA SUWITAAA.. ”
“ Huaaa.. Ini persis kayak Matematika, 1+1=2. Ini ilmu pasti, lo nggak akan pernah menang lawan kecantikan ; maksudnya lo liat dong Dania.. 170, 34-24-34 mungkin, perfect size.. Kulit putih, rambut panjang hitam legam dengan poni andalan yang cute, mukanya….aduuuh cantik banget, kalo dia idup di jaman pujangga jaman dulu mukanya bakalan dideskripsiin bermata bak bintang kejora, bibir seperti delima merekah, pipi bak pauh di layang, gigi bak biji timun, rambut bak mayang terurai.. Surat cinta dari penggemarnya satu BAK pula! Sutra lah.. She’s perfect! Belum lagi ditambah dia itu image-nya bagus, ngetop tapi nggak ngetop-ngetop bikin enek, duta majalah keren GALS….jauh dari gosip-gosip miring, bokapnya someone di perusahaan tambang multinasional.. Lo mau apa lagi? You definitely can NOT win this competition, Honey.. You can not compete Dania Soedjono—the new face of beauty.” Uraian panjang lebar Dian, sahabatku, membunuh semua benih-benih harapan di dalam hatiku. Mereka langsung mati seketika persis seperti sperma-sperma yang mati terkena spermisida yang katanya ada di kondom ekstra safe.
Some people said that beauty is in the eyes of the beholder, beauty adalah tentang attitude dan inner beauty…setiap perempuan itu terlahir cantik, bla bla bla…banyak sekali definisi tentang kecantikan.….
Tapi ketika kamu harus berhadapan dengan sosok yang nggak cuma memenuhi semua standar kecantikan yang diciptakan oleh industri kecantikan dunia dan bahkan melebihi, menciptakan definisi baru tentang kecantikan itu sendiri, dalam persaingan memperebutkan cinta seorang eligible bachelor—seorang pengusaha muda yang sedang membangun karier politiknya, yang keponakan orang SANGAT PENTING, HASLAN NASUTION—pilihannya tinggal 2. Tetap berharap akan datangnya keajaiban dengan kemungkinan 99:1 dan semua orang berpikir kamu gila dan nggak realistis, atau mundur total sebelum hancur karena harusnya kamu tahu diri bahwa at the very first place, ini adalah the real KONTES KECANTIKAN where the most beautiful girl gets the best and the most qualified man. Or should I say…the most ELIGIBLE man?
Bekerja sebagai seorang desainer interior freelance dengan kehidupan finansial yang morat-marit di umur 26, menjadi parasit di rumah kakaknya, so single karena sudah 4 tahun betul-betul menjomblo, tidak membuat Nadja Sinka Suwita pesimis. Justru dia adalah seorang perempuan mungil yang smart, fun, energik, dan optimis dalam melihat segala sesuatu. Apalagi ketika Obi, sahabat Nadja, memperkenalkannya dengan Budiarsyah Nasution, cowok “penting” yang membuat Nadja semakin optimis lagi menjalani hari-harinya.
Sampai suatu hari, Nadja harus menghadapi kenyataan bahwa dia bersaing dengan seorang perempuan MAHA CANTIK, MAHA INDAH slash model slash Duta Gals Indonesia (majalah favorit Nadja), slash crème de la crème socialite Jakarta, DANIA SOEDJONO, untuk mendapatkan cinta Budi—Nadja mulai mempertanyakan sikap optimisnya. Tapi lebih dari itu, Nadja mulai menyadari bahwa dunia ini adalah ajang beauty contest yang sesungguhnya, apalagi di dalam sebuah masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, konon… kecantikan seorang perempuan sangat berharga karena the most beautiful girl gets the most eligible man.
Is it always like that? Does beauty still rule? Apa yang akan dilakukan Nadja? Menyerah? Atau “berjuang” melawan kekuatan kecantikan maha dahsyat Dania Soedjono yang ternyata “dijaga” ketat oleh ksatria pengagum setianya—Max?
Bisakah Nadja membuktikan bahwa beauty is no longer RULES?
|